Dialog Seorang Petani
Petani juga Sebuah Cita-Cita
“Cobalah melihat sesuatu dari sudut yang berbeda” kata-kata
yang aku kutip dari seorang Tadashi Harada, salah satu karakter Big Hero 6. Ya dunia
kartun memang sangat imajinatif dan yang paling aku sukai mereka lebih gamblang
dalam membongkar sesuatu. Berbicara sudut pandang (perspektif) pasti banyak ragamnya, seperti halnya diriku memiliki
sebuah perspektif yang terbentuk dari sebuah pengalaman dan intuisi. Oleh karenanya, perspektif inilah yang menjadikan setiap orang memiliki tolak ukur tersendiri dalam menilai kesuksesan
dan kebahagiaan.
Berbicara sukses tentunya tak lepas dari cita-cita dan
usaha. Ingatkah kalian apa cita-cita masa kecil kalian? Tentunya banyak yang
menjawab dokter, polisi ataupun pilot. Jarang sekali yang melirik cita-cita
satu ini. Ya, sebagai seorang bocah yang belum memiliki wawasan atau bahkan
pembendaharaan kata untuk sebuah profesi, mereka hanya dapat menjawab pekerjaan
yang menurut mereka keren dan hebat kala itu hehehe. Namun, semakin dewasa dan
bertambahnya wawasan seseorang dapat melunturkan semua cita-cita dimasa kecil,
tak terkecuali diriku.
Berdiam lama disebuah lingkungan baru tentunya banyak hal baru yang dapat kita ekspos, berdialog dengan masyarakat juga mampu mengubah cara pandang kita terhadap suatu hal. Petani salah satunya, seorang bapak yang pateng neng sawah pernah mendialogkan cita-citanya padaku, bertutur beliau seolah memberikan harapan padaku untuk menyampaikan pesan kepada dunia luar betapa ia ingin berbagi pengalaman menjadi seorang petani.
Kala itu aku memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang berlibur di kampung halaman nenek, sangat indah bukan? seperti halnya karangan ketika SD wkwk. Aku yang sedang khusyuk memanen terong terteguk mendengar tuturnya "ya gini, ini cita-cita saya dari dulu, promosiin hasil panen lewat media sosial trus pada dateng untuk belajar langsung" wah aku kira menjadi seorang petani adalah wujud kepasrahan anak kampung yang terjebak nasib dan tak mau ambil pusing dengan modernisasi, ternyata petani juga cita-cita. Seorang orang dewasa yang sudah memiliki pekerjaan tetap saja masih ingin mengejar cita-citanya, kenapa kita sebagai generasi muda terkalahkan semangat oleh kaum tua.
Aku jadi teringat pesan ibuku "dimanapun tempat yang penting satu, ada usaha" jangan kira petani tak ada arti ketimbang pengepul. Semua hal kecil jika terus dikembangkan pasti akan hebat.
Walaupun aku memggunakan diksi yang sangat sederhana, tapi pandanglah dengan sudut yang berbeda, aku berani mengekspresikan perasaanku, itu sudah kemajuan, bukankah berani mencoba tapi salah itu lebih baik dari pada tak mencobanya? yakinlah akan ada tawa kepuasan ketika membaca ulang tulisanmu. Tak perlu terburu-buru, cukup konsisten namun pasti.
Salam Literasi!
Berdiam lama disebuah lingkungan baru tentunya banyak hal baru yang dapat kita ekspos, berdialog dengan masyarakat juga mampu mengubah cara pandang kita terhadap suatu hal. Petani salah satunya, seorang bapak yang pateng neng sawah pernah mendialogkan cita-citanya padaku, bertutur beliau seolah memberikan harapan padaku untuk menyampaikan pesan kepada dunia luar betapa ia ingin berbagi pengalaman menjadi seorang petani.
Kala itu aku memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa yang sedang berlibur di kampung halaman nenek, sangat indah bukan? seperti halnya karangan ketika SD wkwk. Aku yang sedang khusyuk memanen terong terteguk mendengar tuturnya "ya gini, ini cita-cita saya dari dulu, promosiin hasil panen lewat media sosial trus pada dateng untuk belajar langsung" wah aku kira menjadi seorang petani adalah wujud kepasrahan anak kampung yang terjebak nasib dan tak mau ambil pusing dengan modernisasi, ternyata petani juga cita-cita. Seorang orang dewasa yang sudah memiliki pekerjaan tetap saja masih ingin mengejar cita-citanya, kenapa kita sebagai generasi muda terkalahkan semangat oleh kaum tua.
Aku jadi teringat pesan ibuku "dimanapun tempat yang penting satu, ada usaha" jangan kira petani tak ada arti ketimbang pengepul. Semua hal kecil jika terus dikembangkan pasti akan hebat.
Walaupun aku memggunakan diksi yang sangat sederhana, tapi pandanglah dengan sudut yang berbeda, aku berani mengekspresikan perasaanku, itu sudah kemajuan, bukankah berani mencoba tapi salah itu lebih baik dari pada tak mencobanya? yakinlah akan ada tawa kepuasan ketika membaca ulang tulisanmu. Tak perlu terburu-buru, cukup konsisten namun pasti.
Salam Literasi!
Comments
Post a Comment